Senin, 13 Juli 2026

Propagasi Gelombang Radio HF band

Dalam dunia komunikasi radio amatir, khususnya pada frekuensi High Frequency (HF) di rentang 1.8 MHz hingga 30 MHz, kondisi sinyal sangat bergantung pada fenomena alam yang dinamakan Propagasi Gelombang Radio. Berbeda dengan frekuensi VHF/UHF yang sifatnya Line-of-Sight (pancar lurus), sinyal HF memanfaatkan lapisan Ionosfer bumi untuk memantulkan gelombang radio sehingga kita bisa berkomunikasi antar pulau bahkan antar benua (DXing).

📡 Real-time HF Band Condition Monitor

Memahami Parameter Indikator Solar

Kondisi lapisan Ionosfer sangat dipengaruhi oleh radiasi Matahari. Berikut adalah istilah penting dalam membaca widget kondisi band di atas:

  • SFI (Solar Flux Index): Mengukur besarnya radiasi sinar ultraviolet dan radio dari Matahari. Semakin tinggi angka SFI (idealnya di atas 100-150+), semakin rapat ionisasi di lapisan Ionosfer, yang membuat band frekuensi tinggi (15m, 12m, 10m) terbuka lebar untuk komunikasi jarak jauh (DX).
  • SSN (Sunspot Number): Jumlah bintik hitam pada permukaan Matahari. Makin banyak bintik matahari, makin kuat ionisasi ionosfer yang mendukung propagasi HF.
  • K-Index & A-Index: Indikator gangguan/badai geomagnetik bumi.
    • K-Index (0-9): Angka rendah (0–2) berarti kondisi medan magnet bumi tenang/stabil (sangat baik). Angka ≥ 4 menandakan adanya badai geomagnetik yang dapat mengacak ionosfer dan merusak sinyal HF.
    • A-Index (0-400): Rata-rata harian aktivitas geomagnetik. Makin rendah nilainya, makin jernih kondisi penerimaan di radio.
  • X-Ray (Solar Flares): Tingkat emisi sinar-X dari ledakan Matahari. Jika terjadi flare kelas kuat (seperti M-Class atau X-Class), dapat mengakibatkan fenomena Radio Blackout mendadak pada band frekuensi HF bagian bawah.

Karakteristik Masing-Masing Band HF

Setiap alokasi frekuensi HF memiliki karakter pantulan unik berdasarkan waktu (siang/malam):

Band Frekuensi Karakteristik Propagasi Utama
160m & 80m 1.8 MHz & 3.5 MHz Night-time Bands. Pada siang hari sinyal habis diserap oleh lapisan D ionosfer. Sangat bagus untuk komunikasi lokal/regional dan DX jarak jauh pada malam hari.
40m 7.0 MHz Workhorse Band. Band paling populer di Indonesia. Sangat stabil untuk jangkauan lokal/nasional di siang hari (NVIS) dan berubah menjadi band DX jarak jauh yang ampuh di malam hari.
20m 14.0 MHz King of DX. Band utama untuk komunikasi antar benua. Sangat aktif dari pagi hingga sore/malam hari tergantung siklus Matahari.
17m, 15m, 12m, 10m 18 MHz – 28 MHz Day-time High Bands. Sangat peka terhadap nilai SFI tinggi. Jika Matahari aktif, band 10m/15m bisa terbuka lebar dengan sinyal sangat jernih dan daya pancar (power) rendah sekalipun. Sering tutup pada malam hari.

Salam 73 & Good DX! — ORARI Lokal Kabupaten Pati (YH2AS)

 





Sejarah ORARI

 Sejarah ORARI

Sejarah Organisasi Radio Amatir Republik Indonesia adalah tonggak sejarah tumbuh dan berkembangnya ORARI.

Kegiatan radio amatir merupakan kegiatan orang-orang yang mempunyai hobi dalam bidang tehnik transmisi radio dan elektronika, kegiatan ini sudah ada sejak tehnik transmisi radio ditemukan dan karena kegiatan ini menggunakan disamping peralatan juga media spektrum gelombang elektro magnetik yang menyangkut kepentingan kehidupan manusia dalam alam semesta ini maka, kegiatan ini disahkan, diatur dan diawasi secara global baik oleh Badan2 telekomunikasi international ITU & IARU maupun oleh badan telekomunikasi nasional disetiap negara.

Para amatir radio sedunia sadar bahwa kegiatan ini harus dilakukan secara tertib dan benar menurut kaidah hidup manusia dan peraturan yang berlaku secara internasional dan nasiona,l oleh karena itu dalam melakukan kegiatannya mereka mempunyai dan berlandaskan KODE ETIK AMATIR RADIO.

Demikian juga di Indonesia kegiatan Amatir radio sudah ada sejak awal abad ke 20. Semasa perang kemerdekaan RI para amatir radio di Indonesia juga aktive berjuang dengan peralatan dan keahliannya. Mereka bergabung di dalam wadah Persatoean Amateur Repoeblik Indonesia (PARI). Namun pada zaman orde lama sehubungan dengan diberlakukannnya SOB kegiatan ini dilarang.

Terbentuknya Organisasi Radio Amatir Republik Indonesia

Nara Sumber: RAJ Lumenta, Engkus, Herry Sembel, Hasan Koesoema Ardiwinata, MI Khadja, Willy A. Karamoy,

Terbentuknya orari boleh dikata berawal di Jakarta dan Jawa Barat atau pulau Jawa pada umumnya dan diprakarsai oleh kegiatan aksi mahasiwa , pelajar dan kaum muda, diawal tahun 1965 sekelompok mahasiwa publistik yang tergabung dalam wadah KAMI membentuk radio siaran perjuangan bernama Radio Ampera, mulai saat itu juga bermunculanlah radio siaran lainya seperti Radio Fakultas Tehnik UI, Radio Angkatan Muda, Kayu Manis, Draba dll. Sudah tentu semua radio siaran itu merupakan siaran yang tak memiliki izin alias Radio gelap. Sadar karena semakin banyaknya radio siaran bermunculan yang memerlukan suatu koordinasi demi tercapainya perjuangan ORBA maka dibentuklah pada tahun 1966 oleh para mahasiwa suatu wadah yang diberi nama PARD (Persatuan Radio Amatir Djakarta) di antaranya terdapat nama-nama koordinatornya seperti Willy A Karamoy. Ismet Hadad, Rusdi Saleh ……dll. Dan di Bandung terbentuk PARB. Bagi anggota yang hanya berminat dalam bidang teknik wajib menempuh ujian tehnik dan bagi kelompok radio siaran disamping perlu adanya tehnisi yang telah di uji juga wajib menempuh ujian tehnik siaran dan publisistik. Setelah itu kesemuanya diberi callsign menggunakan prefix X, kode area 1 s/d 11 dan suffix 2 huruf sedangkan huruf suffix pertamanya mengidentifikasikan tingkat keterampilannya A s/d F seperti X6AM, X11CB dsb sedangkan untuk radio siaran diberi suffix 3 huruf.Pada mulanya PARD merupakan wadah bagi para amatir radio dan sekaligus radio siaran . Sehingga pada saat itu secara salah masyarakat mengidentikan Radio amatir sebagai radio siaran non RRI. Karena adanya Tingkatan keterampilan, PARD saat itu juga menyelenggarakan ujian kenaikan tingkat.

Disamping itu terdapat juga para Amatir era 1945-1952 yang tergabung dalam PARI (Persatoean Amatir Repoeblik Indonesia 1950), di antaranya terdapat nama – nama , Soehodo †. (YBØAB), Dick Tamimi †. (YBØAC), Soehindrio (YBØAD), Agus Amanto † (YBØAE), B. Zulkarnaen †. (YBØAU), Koentojo † (YBØAV) dll. Di antara mereka ternyata ada juga yang menjadi anggota PARD seperti, (YBØAE) dan (YBØAU).

Penertiban

Demi ketertiban pemakaian frekwensi di Jakarta pada pertengahan 1967 atas prakarsa bapak Bambang Soehardi † selaku Ka Hubdam V Jaya diberlakukan wajib daftar bagi setiap Amatir radio dan broadcaster diHubdam V Jaya dengan rekomendasi dari PARD dan masa berlakunya surat tanda pendaftarannya adalah 3 bulan.(Surat tanda Daftar baru keluar ± bulan Juni 1968)

Pada Akhir tahun 1967 atas prakarsa Dr. Rubiono Kertopati † (salah satu perintis Lembaga Sandi Negara) selaku ketua Dewan Telkomunikasi, Koentojo † (YBØAV) selaku Sekretaris Dewan TelKom dan bapak Soerjadi † (YBØAZ) selaku Ka HubAd telah diundangkan Peraturan Presiden No. 21 yang mengatur Kegiatan Amatir radio di Indonesia.

ORARI Nasional

Atas dasar PP21/1967 pada tanggal 9 Juli 1968 dilingkungan Sekretariat Negara pada waktu itu dan tanpa kesibukan yang menonjol dengan dihadiri sejumlah calon anggota yang berdomisili terutama di pulau Jawa, terbentuklah ORARI dan praktis pada awalnya hanya mencakup pulau Jawa yang terdiri atas 4 Regio yakni DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Ketua ORARI Nasional dijabat oleh Bapak Koentoyo † (YBØAV). Dengan terbentuknya Wadah yang sah ini maka, para Amatir merasa lega karena bisa secara sah melakukan kegiatannya. 
Tenaga penguji di Dewan Telkom saat itu sangat terbatas dan hanya diperuntukan untuk menguji calon Operator dan Markonis radio maka, Dewan belum mungkin menyelenggarakan ujian untuk calon anggota ORARI dan untuk kebutuhan ini ORARI diberi wewenang sementara untuk menyelenggarakan sendiri ujian Amatir bagi calon anggotanya. 
Dan untuk mengurus keperluan perizinan seluruh anggota ORARI telah ditunjuk wakil tetap ORARI di Dewan Telekomunikasi RI. Yakni Herry Sembel (YBØBR) dan Hasan Koesoema (YBØAH).

Dengan terbentuknya ORARI maka terjadilah masa transisi dalam meletakkan istilah Amatir pada tempatnya, terutama dimasyarakat dan bahkan banyak di antara pengurus terutama di daerah masih mengidentikan kegiatan Amatir radio dengan Radio siaran non RRI. 

Hal ini terlihat dengan adanya radio-radio siaran dan badan-badan usaha yang melegalitaskan kegiatan siaran/ komunikasi usahanya dengan merekrut anggotanya menjadi anggota ORARI. Untuk mempersingkat masa transisi ini dan mencegah jangan adalagi suatu badan radio siaran atau badan lainnya mengajukan permohonan menjadi anggota ORARI maka pada Bulan Februari 1969 Bapak Koentoyo selaku Sekretaris Dewan Telekom menugaskan Bapak Engkus selaku staff Dewan Telekom dan Hasan Koesoema selaku wakil tetap ORARI di Dewan Telekom untuk memberikan pengarahan pada pembina dan pengurus ORARI di Jawa tengah dan Jawa Timur. 

Dari hasil pengarahan dan pengamatan ternyata Jawa tengah Bapak Imam Poerwito selaku Kahubad Kodam Diponegoro dan selaku ketua ORARI sudah sejak awal membuat langkah – langkah antisipasi sepert melakukan screening calon anggota dengan ketat melalui ujian dan ini dibuktikan dengan terdominasinya kegiatan ORARI Semarang oleh anggota-anggotanya yang melakukan kegiatan amatir tulen, seperti pemancar rakitan sendiri kegiatan QSO sebagainya. Namun di jawa timur baru setelah diberikan pengarahan pembina ORARI Bapak Tewel baru menyadari akan pandangannya yang keliru tentang kegiatan amatir radio.

sumber : http://www.itu.int/

ORARI Lokal Pati

ORARI Lokal Pati 

Senin 15 Juli 2019

ORARI DAERAH JAWA TENGAH LOKAL PATI 
Jl. Kamandowo 7 
Pati 59114